Jumat, 30 Agustus 2013

Cerpen: Kamar Mandi Jam Empat Pagi


Aku sedikit terbangun ketika mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Kamar mandi yang letaknya di luar ruangan kost-kostan berukuran 3×3 meter ini. Kulirik jam dinding, jarum pendek masih menunjukkan angka empat.

Hemm, yang di kamar mandi itu pasti Adit. Teman satu kampusku yang kebetulan sedang menginap. Tugas kelompok yang aku dan lima orang teman lainnya kerjakan semalam cukup menguras tenaga. Entah pukul berapa tugas itu selesai kami kerjakan. Yang kuingat, aku langsung tertidur seusai teman-teman yang lain pamit pulang.

Dan diantara teman-temanku itu, rumah Adit-lah yang jaraknya paling jauh. Sehingga ia memutuskan untuk menginap. Tapi tidak kusangka ia punya kebiasaan mandi pagi di hari libur seperti ini.

"Ngapain lu mandi jam segini? Kesambet? Haha", teriakku ke arah kamar mandi tanpa keluar kamar.

Aku berani berkata seperti itu karena saat ini penghuni kost-kostan hanya aku. Maklum, kost-kostan baru. Karena itulah aku yakin yang di kamar mandi itu Adit.

Ia tidak menjawab. Mungkin kesal karena aku meledek kebiasaan baiknya.
Tanpa memusingkan Adit yang tidak menjawab, aku kembali berbaring terlelap. Memanjakan kelopak mata yang terasa sungguh berat.

****

Sekitar jam delapan aku terbangun. Hari Minggu seperti ini enaknya bermalas-malasan seharian. Ingin rasanya aku tidur sampai siang.
Kulihat sekeliling, Adit tidak ada.

"Diiiiit", teriakku mencari-cari ke arah luar luar setelah membuka jendela.
Tidak ada jawaban.

Ah, mungkin ia keluar membeli makanan. Baik sekali dia. Tau saja nasib anak kost di tanggal seperti ini.


Sambil kembali berbaring malas, kuraih handphone di sudut meja. Lampu LED-nya menyala. Pertanda ada sms masuk yang sudah beberapa jam belum dibuka.

"Sori bro, semalem penyakit adek gue kambuh lagi, jadi gue langsung balik. Lo gue bangunin ga bangun2. Kunci pintu gue jatohin ke dalem lewat ventilasi ya"

Aku tersentak. Pengirimnya adalah Adit.

Lalu yang mandi pukul empat pagi tadi itu siapa? Mengingat penghuni kost-kostan ini hanya aku sendiri.
Ibu kost? Ah, tidak mungkin. Bangunan rumah dan kostan ini terpisah. Setahuku di dalam rumahnya yang besar itu ada dua kamar mandi. Terlebih ia tinggal hanya seorang diri.
Warga sekitar? Apalagi. Pagar lingkungan kost-kostan ini cukup tinggi, meskipun gerbangnya tidak pernah dikunci.
Ah, entahlah. Mungkin Adit berbohong tentang kepulangannya tadi. Atau, mungkin juga tadi pagi itu aku masih bermimpi.

***

Pukul setengah sembilan. Setelah mencuci muka dan menyikat gigi secukupnya, aku berjalan menuju warung kopi yang letaknya tidak jauh. Segelas kopi dan pisang goreng di pagi hari seperti ini pasti enak sekali. Mandi? Apa itu mandi?

Sampai di sana, suasana sepi. Bapak-bapak penjaganya pun masih asyik menonton tv. Sambil duduk memesan kopi, aku menanyakan perihal Adit yang katanya semalam pulang itu pada bapak penjaga warung kopi yang buka 24 jam ini. Jujur saja, aku masih memikirkan kejadian jam empat pagi tadi.

Barangkali bapak ini melihatnya, karena jika gerbang kost-kostan dibuka, otomatis siapa pun di warung kopi ini pasti melihat, saking dekatnya.

"Yang make jaket merah ya? semalem sih saya liat keluar gerbang sekitar jam dua", ujar penjaga warung kopi itu.

"Emang kenapa, dek?", lanjutnya lagi.

"Enggak, pak. Tadi jam empat saya denger suara gemericik air di kamar mandi. Saya pikir temen saya itu yang lagi mandi"

Bapak itu terlihat kaget.

"Emang adek nggak diceritain soal kamar mandi itu sama ibu kost?"
"Enggak, pak, saya jarang ketemu ibu. Emang kamar mandi itu kenapa, pak?"

Sambil menghidangkan kopi, bapak itu mulai bercerita.

**

Pukul empat pagi di hari selanjutnya, aku kembali terbangun oleh sebab yang sama. Suara gemericik air di kamar mandi itu.
Berusaha melawan rasa takut, aku mengendap-ngendap mendekati jendela, mengintip ke arah kamar mandi yang letaknya hanya 4 meter di depan kamarku.

Melihatnya dengan jelas, aku bergidik ngeri. Keringat dingin mulai mengucur membasahi kening.
Ternyata benar apa yang diceritakan bapak penjaga warung kopi tadi pagi.

Toren airnya bocor.

1 komentar: