Aku sedang terduduk melamun di sebuah teras kontrakan kecil ketika seseorang menepuk pundakku dari belakang.
Rupanya temanku. Penyewa kontrakan yang saat ini bangku di terasnya sedang kududuki.
Ini sudah hari ke 4 aku menginap di tempatnya. Bukan, aku bukan tidak punya rumah. Pun aku juga bukan tidak memiliki orang tua.
Mereka semua ada di rumah. Entah mereka mencariku atau tidak. Aku buru-buru mengganti sim card handphoneku ketika aku pergi meninggalkan rumah.
Kejadian setelah sahur pagi itu membuat hidupku berubah. Bingung pada apa aku akan pasrah.
"Ngapain lo disini, Fan? Bukannya tidur lo, dikit lagi sahur nih", ujarnya sambil merebahkan badannya di bangku yang ada tepat di sebelahku.
"Oh elo Green, gue kira siapa. Ngagetin aja lo"
"Udahlah, gak usah terlalu dipikirin. Lo kan udah gede, anggep aja ini buat pelajaran ngadepin permasalahan dikemudian hari", ucapnya seakan tau apa yang sedari tadi aku pikirkan.
Mungkin ia benar. Kehidupan adalah permasalahan. Bisa jadi yang sedang kualami saat ini hanyalah bagian kecil dari permasalahan besar yang akan kuhadapi suatu saat nanti.
Tapi bagian kecil ini, rasanya teramat besar untuk kutanggung sendiri.
***
"Ayo cepetan dihabisin makanannya, dikit lagi imsak!", celoteh ibuku di dapur pagi itu. Ia sedang mencuci piring.
Aku dan adikku bergegas menghabiskan makanan sambil menonton acara tv. Kami berdua memang lambat untuk urusan makan.
Sedangkan ayahku di teras rumah. Menghabiskan beberapa batang rokok juga segelas teh hangat yang tadi dihidangkan ibu.
Imsak tiba. Ibuku masih sibuk di dapur. Adikku membantunya. Sedangkan aku masih di depan tv. Tidur-tiduran seperti yang biasa aku lakukan. Ayah tidak. Ia langsung masuk ke kamar. Beliau memang tidak terlalu suka menonton tv.
Terbangun pukul setengah 6 pagi. Rupanya aku tertidur ketika tidur-tiduran di depan tv setelah sahur tadi. Tidak ada siapapun ketika aku terbangun. Sepertinya mereka sedang tidur di kamar masing-masing.
Aku beranjak untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi. Saat tengah berjalan, perhatianku tertuju pada lampu kecil yang berkedip di pojok meja. Itu handphone ayah. Lampu biru dan merah berkedip bergantian. Tanda ada pesan masuk juga panggilan tak terjawab.
Tanpa bermaksud lancang, tapi aku pikir ada pesan penting pada sms yang masuk di handphone ayahku itu. Hingga aku putuskan untuk membukanya.
PRAAANGG!!!
Bukan, itu bukan suara piring atau gelas yang pecah karena terjatuh saat tak sengaja kusenggol. Itu suara bongkahan hati yang hancur berkeping-keping ketika melihat isi pesan yang terpampang di layar.
"Kamu udah sholat belum, sayang?"
Ya, itulah isi pesan masuk yang kubaca di handphone ayahku. Aku kaget, lemas, aku tak percaya ini sebuah kenyataan, aku ingin menangis.
Sempat aku berpikir kalau itu hanyalah sebuah sms nyasar. Dan pula memang itulah yang aku harapkan.
Ternyata bukan. Kulihat belasan bahkan puluhan sms berisi pesan mesra dari dan ke nomer yang sama. Panggilan tak terjawab itu pun juga berasal dari nomer yang sama. Nomer yang disimpan tanpa nama.
Pukul setengah 7 sebelum berangkat bekerja, aku mencium kening adik kecilku yang masih tertidur lelap. Kulihat ayahku juga terlelap di sebelahnya. Kemudian pamit pada ibuku seraya mencium tangannya, cukup lama. Lagi-lagi aku ingin menangis. Ia heran. Tapi aku lebih heran, kenapa ayah sampai bisa melakukan hal seperti itu. Aku yakin ia bukanlah orang yang suka main perempuan seperti itu. Terlebih ia rajin beribadah, juga mengaji. Ini aneh. Aneh sekali.
Ingin rasanya menceritakan semuanya pada ibu. Tapi aku terlalu cinta pada keluarga ini. Aku tidak ingin keluarga ini hancur. Aku ingin keluarga ini tetap ayah, ibu, adik dan aku.
Aku ingin seperti itu.
Sebenarnya hari itu hingga 3 hari kedepan aku sedang dalam jadwal libur kerja. Harusnya aku tidur-tiduran bermalas-malasan di rumah. Atau jika sedang benar, membantu ibu membersihkan rumah.
Tapi rasanya tak sanggup lagi aku menahan tangis di rumah kecil yang ini terlalu lama. Dengan alasan berangkat kerja, aku pergi. Entah akan kemana, saat itu aku belum menemukan arah tujuan. Sampai aku teringat satu-satunya teman baikku, Greenius. Mungkin ia bisa membantuku.
Maaf, aku pergi sejenak, ibu. Mencari jalan keluar, jalan keluar terbaik untuk ibu, ayah, adik, aku.
Keluarga kita.
**
Sempat beberapa kali aku melakukan apa yang Greenius sarankan. Berbicara langsung pada ayah. Ya, aku melakukannya. Berbicara langsung padanya. Ayah meminta maaf padaku, menangis, dan memohon agar tak menceritakan semuanya pada siapapun. Terutama ibu.
Tanpa ia mohon pun, sudah tentu aku tidak akan melakukannya. Harus ada jalan keluar lain. Aku tidak mau menyakiti hati ibu.
Tidak menceritakannya, itu janjiku.
Aku berjanji, ayahku pun demikian. Berjanji untuk menghentikan dan tidak melakukannya lagi. Aku percaya. Lebih tepatnya, berusaha percaya.
Sampai aku sadar, kepercayaanku hanya sia-sia ketika aku memergoki sms-sms busuk itu di handphonenya lagi. Ya, aku menyadap handphonenya. Ayahku tetap melakukannya. Lagi! Aku benci kau, ayah! Aku benci! Sekalipun aku ada di dunia ini berkat kau!
Saat itu, aku mulai mengerti seperti apa rasanya putus asa. Tidak enak.
*
Langit terlihat cantik malam ini. Terlalu kontras dengan apa yang sedang kualami. Satu rembulan dikelilingi berjuta bintang yang menghiasi gelapnya malam. Membuatku yang sedang asyik memandangnya seakan ingin merobek langit, lalu memunguti bintang. Untuk kemudian kujadikan teman ketika aku nanti duduk bersandar di bulan.
"Haha gila! Mana mungkin hal seperti itu bisa terjadi. Dasar kau gila!", gumamku dalam hati sambil tertawa sendiri, kemudian mulai merebahkan diri.
Dari kejauhan terlihat kereta mulai mendekat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar