Perlu ngadain syukuran motong kambing nih kayaknya.
Ya, tumben-tumbenan pagi itu saya udah bangun. Padahal biasanya jam segitu saya malah justru baru mau mulai tidur. Hari dimana jadwal kuliah lagi kosong.
Ibu saya pun heran.
"Mau kopi, nggak?", tanya ibu saya.
Sebenernya saya mau nolak, tapi karena takut durhaka ya sudah saya iya-kan saja.
Seperti kebanyakan yang anak-anak muda (iya, saya masih muda) lakukan kalo lagi nggak ada kerjaan. Sambil menikmati kopi terenak yang pernah saya minum, pagi itu saya duduk manis di depan tv dan tangan memegang handphone dengan layar yang menampilkan timeline twitter. Iya, saya suka twitteran kalo lagi gak ada kerjaan. Walaupun lebih tepatnya emang jarang ada kerjaan sih. (baca: pemalas)
Sementara di tv menayangkan kartun.
Wait, what?! Kartun?
Iya, emang kenapa. Seenggaknya itu tontonan yang lebih mengasah imajinasi ketimbang acara gosip, acara musik pagi atau sinetron yang.. ah sudahlah, malas saya ngomonginnya.
Lebih berguna? Jelas. Menurut saya sih. Eh sudah-sudah, ini kenapa jadi dilanjutin lagi. Hih
Saat tv menayangkan iklan, mata saya kembali tertuju ke handphone yang saya pegang. Refresh timeline-scroll-refresh timeline-scroll begitu seterusnya sampai saya membaca tweet ini.
Sontak saya pindah channel ke stasiun tv yang bersangkutan dong.
Setelah ganti channel, yang saya cari di stasiun tv itu nggak saya temukan. Saya terlambat. Menyesal sekali rasanya.
Putus asa, saya mengambil obat nyamuk. Lalu saya minumkan ke nyamuk-nyamuk yang saya pelihara. Mereka kena gejala DBD.
Yah, karena gak nemu apa yang saya cari di stasiun tv tadi, saya scroll timeline lagi dong. Ternyata ramai diperbincangkan. Sampai akhirnya saya nemu tweet ini:
Masih belum puas, saya scroll lagi, dan menemukan yang ini:
(Sisa capture-an diambil dari PC, tadi pagi ga kepikiran. Hehe)
Selebihnya, liat disini aja deh ya.. Males ngetiknya saya juga.
Yang jelas, menurut sepengelihatan mata saya, Agama hanya dijadikan sebuah topeng untuk mendapatkan kekuasaan oleh organisasi mereka. Karena setau saya, Nabi Muhammad sedikitpun nggak pernah mengajarkan untuk berbuat anarkis. Itu sih menurut pendapat saya, mungkin orang lain menilainya dengan cara yang berbeda.
Balik lagi,
Kalau dilihat dari persoalannya, ngeliat dari beberapa sisi yang berbeda kayaknya perlu dong ya. Supaya pikiran lebih terbuka sebelum menentukan opini.
Tapi terlepas dari itu semua, otak saya bertanya-tanya.
"Kok bisa sih? Acaranya kan disiarkan secara live, nggak malu? Apa artinya demokrasi kalau nggak bisa mengendalikan emosi? Udah tua, kan? Anak kecil kayak gitu juga nggak sih?"
Tapi ah sudahlah, siapalah saya ikut-ikutan mikirin hal semacam ini. Bangun tidur aja masih sering kesiangan.
Yah, seenggaknya dari situ saya jadi mikir, kacau amat sih sikap orang-orang yang berpengaruh di Negara ini. Kemana perginya isi dari pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang diajarkan sejak kelas 1 SD ? Kemana? Mereka pergi jalan-jalan? Kenapa saya nggak diajak?!
-----------
Doa saya pagi ini: Semoga nggak ada anggota FPI yang baca tulisan saya yang ini. Amin~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar