Minggu, 30 Juni 2013

Cerpen: Ayah, Aku Putus Asa


Aku sedang terduduk melamun di sebuah teras kontrakan kecil ketika seseorang menepuk pundakku dari belakang.
Rupanya temanku. Penyewa kontrakan yang saat ini bangku di terasnya sedang kududuki.


Ini sudah hari ke 4 aku menginap di tempatnya. Bukan, aku bukan tidak punya rumah. Pun aku juga bukan tidak memiliki orang tua.
Mereka semua ada di rumah. Entah mereka mencariku atau tidak. Aku buru-buru mengganti sim card handphoneku ketika aku pergi meninggalkan rumah.
Kejadian setelah sahur pagi itu membuat hidupku berubah. Bingung pada apa aku akan pasrah.


"Ngapain lo disini, Fan? Bukannya tidur lo, dikit lagi sahur nih", ujarnya sambil merebahkan badannya di bangku yang ada tepat di sebelahku.

"Oh elo Green, gue kira siapa. Ngagetin aja lo"

"Udahlah, gak usah terlalu dipikirin. Lo kan udah gede, anggep aja ini buat pelajaran ngadepin permasalahan dikemudian hari", ucapnya seakan tau apa yang sedari tadi aku pikirkan.

Sabtu, 29 Juni 2013

Cerita Pagi Ini

"Tumben amat gue jam segini udah bangun", gumam saya pagi itu.
Perlu ngadain syukuran motong kambing nih kayaknya.

Ya, tumben-tumbenan pagi itu saya udah bangun. Padahal biasanya jam segitu saya malah justru baru mau mulai tidur. Hari dimana jadwal kuliah lagi kosong.

Ibu saya pun heran.
"Mau kopi, nggak?", tanya ibu saya.
Sebenernya saya mau nolak, tapi karena takut durhaka ya sudah saya iya-kan saja.


Seperti kebanyakan yang anak-anak muda (iya, saya masih muda) lakukan kalo lagi nggak ada kerjaan. Sambil menikmati kopi terenak yang pernah saya minum, pagi itu saya duduk manis di depan tv dan tangan memegang handphone dengan layar yang menampilkan timeline twitter. Iya, saya suka twitteran kalo lagi gak ada kerjaan. Walaupun lebih tepatnya emang jarang ada kerjaan sih. (baca: pemalas)

Sementara di tv menayangkan kartun.
Wait, what?! Kartun?
Iya, emang kenapa. Seenggaknya itu tontonan yang lebih mengasah imajinasi ketimbang acara gosip, acara musik pagi atau sinetron yang.. ah sudahlah, malas saya ngomonginnya.
Lebih berguna? Jelas. Menurut saya sih. Eh sudah-sudah, ini kenapa jadi dilanjutin lagi. Hih



Saat tv menayangkan iklan, mata saya kembali tertuju ke handphone yang saya pegang. Refresh timeline-scroll-refresh timeline-scroll begitu seterusnya sampai saya membaca tweet ini.



Sontak saya pindah channel ke stasiun tv yang bersangkutan dong.
Setelah ganti channel, yang saya cari di stasiun tv itu nggak saya temukan. Saya terlambat. Menyesal sekali rasanya.
Putus asa, saya mengambil obat nyamuk. Lalu saya minumkan ke nyamuk-nyamuk yang saya pelihara. Mereka kena gejala DBD.


Yah, karena gak nemu apa yang saya cari di stasiun tv tadi, saya scroll timeline lagi dong. Ternyata ramai diperbincangkan. Sampai akhirnya saya nemu tweet ini:


Masih belum puas, saya scroll lagi, dan menemukan yang ini:

 
(Sisa capture-an diambil dari PC, tadi pagi ga kepikiran. Hehe)

Ngomong-ngomong, Munarman itu siapa sih? Dia adalah juru bicara Front Pembela Islam.
Selebihnya, liat disini aja deh ya.. Males ngetiknya saya juga. 
Yang jelas, menurut sepengelihatan mata saya, Agama hanya dijadikan sebuah topeng untuk mendapatkan kekuasaan oleh organisasi mereka. Karena setau saya, Nabi Muhammad sedikitpun nggak pernah mengajarkan untuk berbuat anarkis. Itu sih menurut pendapat saya, mungkin orang lain menilainya dengan cara yang berbeda.

Balik lagi,
Kalau dilihat dari persoalannya, ngeliat dari beberapa sisi yang berbeda kayaknya perlu dong ya. Supaya pikiran lebih terbuka sebelum menentukan opini.
Tapi terlepas dari itu semua, otak saya bertanya-tanya.
"Kok bisa sih? Acaranya kan disiarkan secara live, nggak malu? Apa artinya demokrasi kalau nggak bisa mengendalikan emosi? Udah tua, kan? Anak kecil kayak gitu juga nggak sih?"

Tapi ah sudahlah, siapalah saya ikut-ikutan mikirin hal semacam ini. Bangun tidur aja masih sering kesiangan.

Yah, seenggaknya dari situ saya jadi mikir, kacau amat sih sikap orang-orang yang berpengaruh di Negara ini. Kemana perginya isi dari pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang diajarkan sejak kelas 1 SD ? Kemana? Mereka pergi jalan-jalan? Kenapa saya nggak diajak?!


-----------
Doa saya pagi ini: Semoga nggak ada anggota FPI yang baca tulisan saya yang ini. Amin~

Kamis, 06 Juni 2013

Arah Jam si Kakak (Bodoh) #3

Nanda tampak bercakap-cakap dengan si Kakak dan tiga orang temannya. Gue tertunduk, malu. Grogi, takut apa yang tadi Nanda ancam benar-benar ia lakukan. Iya, memintakan pin atau nomor handphone si Kakak buat gue juga sekaligus menyampaikan rasa ketertarikan gue ke dia. Cuma sekedar itu. Tapi gue terlalu pemalu sampai berusaha menyembunyikan wajah dari mereka.

Mungkin bagi sebagian orang, siklus orang yang suka sama lawan jenis itu:

Liat – suka – kenalan – kontek-kontekan – deket – pdkt pacaran.

Sayangnya hal itu ga berlaku buat gue. Dimana gue lebih banyak memakan waktu buat sampai ke tahap pacaran, atau malah mungkin sekedar ke tahap “deket”. Dan siklus yang berlaku buat gue:

Liat – suka – lebih sering liat – cari informasi – tau nama – sekedar kenal – kenal secara nggak sengaja – temen biasa – kontek-kontekan – temen deket – lebih sering kontek-kontekan – lebih deket lagi – dan entah kapan – pacaran.
Ribet.

Banyak faktor yang ngebuat gue terjebak dalam siklus kayak gitu dalam untuk hal percintaan. Salahsatunya yang udah gue sebutin tadi. Pemalu. Padahal untuk seumuran gue, mungkin masa-masa yang tepat untuk mencari tambatan hati. Halah

---

Balik lagi ke Nanda. Dia masih terlihat bercakap-cakap dengan si Kakak dan teman-temannya. Entah apa yang mereka bicarakan. Gue cuma bisa tertunduk sambil sedikit mengintip.
Beberapa detik kemudian, Nanda berbicara entah apa ke mereka. Sambil mengangguk, juga tertawa kecil, kemudian berjalan ke arah belakang tempat si Kakak dan teman-temannya duduk, memasuki pintu kecil yang menyambung ke arah tangga bagian dalam.