"Hah?", seloroh gue kebingungan.
"Itu plat nomernya, bego! Kali aja ketemu di jalan", lanjut Prasetya sambil tertawa.
"Anjislah, sempet-sempetnya ya lu ngapalin", protes gue walaupun dalam hati ikut ngehafalin. Kemudian diem-diem nyatet plat nomer itu di note handphone supaya nggak lupa.
Sepulangnya dari kampus, gue masih aja kepikiran sama si Kakak itu. Hati terasa hangat dan berdebar-debar saat otak ini tanpa sengaja membayangkan wajahnya.
Aneh. Sebegininya kah?
---
Selasa, 21 Mei 2013
"Kurniawan! Kuliah, nggak?! Udah jam setengah delapan!", teriak nyokap gue membangunkan.
Gue kebangun dengan terkaget-kaget, kemudian buru-buru ngecek jam. Dan ya, bener aja. Udah jam setengah delapan. Loncatlah gue dari kasur, kemudian buru-buru berenang menuju kamar mandi.
"Anjrit, telat lagi gue. Mana jam pertama fisika dasar lagi!", gue bergumam.
Gue berangkat dengan panik yang luar biasa. Takut-takut kalo dosen pengawas nggak ngizinin gue untuk masuk kelas dan ikut ujian. Kalo hal yang gue takutin sampe kejadian, secara otomatis gue harus ikut ujian susulan disertai dengan denda atau biaya tambahan. Dan itu nggak asik banget.
Setelah sampe parkiran kampus, gue ngelirik jam. Udah lewat lima belas menit dari jam masuk kelas. Sial.
Gue langsung ngibrit ke kelas. Sesampainya, pintu tertutup. Gue ketok-ketok, kemudian masuk. Seisi kelas nengok ke arah gue. Malu abis.
Gue liat ke arah meja pengawas. Bu Nita! Sial. Dia adalah dosen yang terkenal killer dan nggak berperikemahasiswaan.
Hampir semua mahasiswa di kampus kenal atau sekedar tau tentang dia, meskipun enggak atau belum pernah diajar sama dia.Termasuk gue.
"Maaf, saya boleh masuk nggak, bu?", tanya gue sambil pipis di celana.
"Silahkan", jawabnya singkat.
Tanpa mengadakan syukuran motong kambing, gue langsung berjalan ke arah meja beliau untuk mengambil lembar soal juga menyerahkan kartu nomer ujian.
Lalu duduk di satu-satunya bangku kosong yang tersisa. Tepat didepan meja bu Nita sang pengawas. Atuhlah.
Sebisa mungkin soal fisika dasar itu gue kerjain. Walaupun jauh dari kata "bisa". Bahkan beberapa nomer essay cuma gue isi dengan nulis ulang soal yang tertera. Kacau.
Saat itu gue ngerasa, kalo di kelas ini gue mahasiswa yang paling bego.
Waktu berlalu dengan cepat. Terlebih gue dateng telat. Tau-tau waktu untuk mengerjakan soal udah abis aja. Bu Nita meminta semua mahasiswa untuk ngumpulin soal beserta lembar jawaban.
Mahasiswa yang lain buru-buru mengumpulkan.
Sedangkan gue, jauh dari selesai. Bahkan setengahnya pun belum.
"Mas, mau dikumpulin atau nggak?", tanya bu Nita ke gue sambil merapikan lembar-lembar jawaban.
"Eng, bentar bu, dikit lagi", jawab gue grogi.
"Oh, yaudah", ucap bu Nita singkat.
Bu Nita lalu memasukkan lembar-lembar jawaban dan soal tadi kedalam map coklat bertuliskan nama mata kuliah beserta nama kelas.
Sesudahnya, ia membagikan soal-soal mata kuliah kewarganegaraan ujian jam kedua. Tanpa istirahat terlebih dahulu. Untuk mempersingkat waktu, ucapnya.
Gue yang semakin panik dan makin nggak bisa mikir, memutuskan untuk nyerahin lembar jawaban fisika dasar yang belum gue kumpulin tadi.
Bu Nita menerima lembar jawaban yang gue serahkan.
Lalu menyobeknya.
Kemudian membuangnya ke tempat sampah di sudut kelas.
Seisi kelas terdiam, dan menoleh. Entah kayak apa ekspresi gue waktu itu.
Gue protes.
"Kamu datang telat masih saya toleransi. Kamu ngumpulinnya telat, masih minta toleransi juga? Nggak ada", ucap bu Nita dingin.
"Tapi kan, bu..."
"Atau kamu mau saya usir keluar dan nggak ikut ujian jam kedua?", tanya bu Nita memotong kalimat gue.
Terdiam dan pasrah, gue kembali duduk ke tempat semula untuk mengerjakan soal ujian jam kedua yang langsung dilanjutkan tanpa istirahat itu.
Alhamdulillah soal kewarganegaraan itu ga susah-susah amat. Seenggaknya, sedikit banyak gue ngerti apa yang harus gue isi di lembar jawaban.
Seusainya gue ngerjain soal, langsung buru-buru gue kumpulin, lalu keluar kelas. Ya, gue yang paling pertama selesai dan mengumpulkan.
Bukan, bukan karena gue jago tentang mata kuliah kewarganegaraan itu. Tapi tiap soal yang lumayan susah, gue isi dengan asal. Bodo amatlah, yang penting keisi, dan gue bisa keluar.
Rasanya kelas itu kayak ruangan yang hampa akan udara. Ngebuat gue pengen buru-buru ngejauh dari situ. Saat itu.
Keluar kelas, gue berjalan gontai menuju toilet. Muka ini terlalu kusut untuk nggak dibasuh dengan air. Saat sedang membasuh muka, seseorang menepuk pundak gue.
"Kenapa lu tadi, Wan?"
Ternyata si Prasetya. Dia emang tergolong mahasiswa yang pinter di hampir semua mata kuliah. Ga heran kalo dia udah keluar kelas.
"Oh elu, Pras. Kacau banget nih gue. Anjislah", jawab gue sambil tetap membasuh muka di wastafel.
"Ya lagian elu sih, kayak nggak tau aja pengawasnya siapa", ujar Prasetya sambil mengeluarkan satu tube sabun pembersih wajah, lalu membasuh mukanya di wastafel sebelah gue.
"Tapi tadi fisika dasar setengahnya pun belom gue isi, Pras. Makanya gue tahan dulu. Eh pas ngumpulin malah disobek. Fak lah tu dosen", ucap gue kesal.
"Yaelah, gue juga tadi banyak yang belom diisi kali. Kan udah banyak korbannya dia. Elu lagi malah mau coba-coba", lanjutnya.
"Tau lah, pusing gue. Turun yuk? Ke tempat biasa", ajak gue.
Dibawah, dekat pintu masuk lantai dua, tempat yang sama seperti kemarin.
Gue terduduk lemas, seraya menundukkan kepala ke meja yang tepat berada di depan bangku yang sedang gue duduki.
Lemas, seakan-akan badan ini baru saja ditimpa lemari es.
"Udahlah, selow aja. Kalo pengawasnya kayak dia mah, wajar. Lu bukan satu-satunya orang yang pernah digituin sama dia kok", ujar Prasetya membuka pembicaraan.
"Ah, ini mah fisika dasar gue bakalan ngulang kayaknya", ucap gue lesu.
"Yaelah ngulang tinggal ngulang, apa bedanya coba. Lagipula bukan cuma lu doang kan", ujar Prasetya menenangkan.
"Lu sih enak. Pinter. Lah gue, ganteng doang", canda gue.
"Setan!"
Gak lama setelah obrolan itu, Anja, Nanda, Adit, dan beberapa teman sekelas gue yang lain muncul dari balik pintu keluar masuk gedung perkuliahan. Kemudian bergabung ke tempat gue dan Prasetya duduk.
Seperti yang udah gue duga. Mereka nanyain hal yang sama kayak yang Prasetya tanyain di toilet tadi.
Gue jawab sekenanya. Dan seperti biasa juga, langsung dijadikan bahan becandaan oleh mereka. Menyebalkan, tapi menyenangkan.
Seenggaknya, saat itu otot tawa di bibir gue bisa kembali bekerja.
Yah, teman emang tempat tercepat dan ter-menyenangkan untuk ngebuang pahitnya beban.
Saat mereka sedang asik becanda dan penuh tawa membicarakan kesialan yang gue timpa. Tiba-tiba gue terdiam. Mata gue tertuju pada satu titik. Arah jam sembilan, tepat di pintu keluar-masuk gedung perkuliahan. Itu dia, si Kakak.
Si dia-yang-sampai-sekarang-gue-ga-tau-namanya.
Cantik. Lebih cantik dari kemarin.
Dan senyum manisnya masih saja enggan terlepas dari bibirnya. Yang padahal lagi-lagi senyum itu bukan ditujukan ke gue, tapi untuk ke tiga orang temannya yang berjalan di sampingnya.
Gue seakan enggan mengalihkan mata dari memandangnya. Bagi mata gue, mungkin dia adalah magnetnya.
Saat itu gue bener-bener lupa kalo baru aja ngalamin kejadian sial yang ga terkira.
Jika gue adalah hamparan tanah gersang yang dilanda kekeringan, mungkin dia adalah rintik hujan. Rintik hujan yang menyejukkan.
Ia dan ketiga temannya berjalan ke arah tempat yang sama seperti kemarin, kemudian duduk disana. Arah jam sebelas.
Sama persis seperti seperti kemarin.
Cuma rasa kagum gue yang membedakan. Semakin bertambah setiap saat ia gue pandang.
"Wan, arah jam sebelas, yang kemaren tuh, Wan", Prasetya berbisik.
"Gue udah liat dari tadi, Pras. Cakep ya.. ngeliat dia, gue sampe lupa kalo lembar jawaban gue tadi disobek bu Nita", ucap gue.
"Esimonyet, ini lagi lu omongin. Berarti lu inget. Gendeng lu!", ujar Prasetya sambil ngejitak kepala gue pake papan tulis.
"Apaan sih, apaan? Serius amat lu bedua dari kemaren", gabung Nanda ingin tau, disusul teman yang lain yang sedaritadi asik becanda.
"Nih si Wawan, lagi ketabrak cinta", ujar Prasetya yang langsung gue sambut dengan protes.
"Yang mana sih?", tanya Nanda lagi.
"Itu, arah jam sebelasnya Wawan, yang berkacamata, frame item", ujar Prasetya menjelaskan.
"Ajak kenalan lah, minta nomernya", ucap Adit ikut berkomentar.
"Malu gue, anjis. Rame gini", balas gue.
"Ah cemen lu, cowok kayak gitu tuh?", ledek Anja yang sedaritadi juga memperhatikan.
"Payah lu, gue yang mintain deh ya", ujar Nanda tiba-tiba sambil beranjak, lalu berjalan ke arah si Kakak.
"Nda, jangan! Woy!", gue berusaha mencegah.
Tapi terlambat. Nanda sudah terlanjur berjalan ke arah si Kakak. Sementara teman yang lain tertawa ngakak.
Pengen rasanya, ngejar si Nanda, lalu menarik jidatnya, kemudian melemparnya ke Papua. Tapi malu rasanya.
Ya, gue penderita krisis kepercayaan diri. Gue pemalu akut. Jangankan ngajak cewek kenalan, untuk sekedar nanya cara masak sayur sop ke pak polisi aja gue ga berani.
Kalo dibandingin dengan Nanda, rasa percaya diri gue emang nggak ada apa-apanya. Dia supel, pandai bergaul. Kenalan di kampusnya juga banyak. Bahkan lebih banyak dari si Prasetya yang suka ngobrol sama pohon mangga.
Dan yang paling menyebalkan, si Nanda ini pacarnya banyak. Padahal mukanya nggak ada apa-apanya kalo dibandingin sama Tony Stark.
Hih!
Perlahan tapi pasti, Nanda semakin mendekat ke arah si Kakak. Setiap langkah Nanda ngebuat dada gue makin berdebar.
Puncaknya saat Nanda berada tepat di depan si Kakak dan tiga orang temannya itu.
Rasa malu yang makin merebak ngebuat gue lemas.
Sementara teman yang lain makin ngakak, gue menundukkan kepala diatas tas gendong yang sedari tadi gue letakkan diatas meja. Sambil sedikit mengintip, untuk melihat apa yang dilakukan Nanda.
"Etdah, si Nanda ngapain sih!", ujar gue dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar