Sabtu, 06 Juli 2013

Cerpen: Suara Misterius



"AKU KESEPIAN!! AKU KESEPIAAAAN!!"

Aku tersentak. Suara siapa itu?!
Aku menoleh, mencari-cari ke kanan, kiri, depan, belakang, bahkan atas dan bawah. Tapi tak seorang pun kutemukan.
Tentu saja, saat ini aku sedang duduk di pinggir tempat tidur kamarku, sendiri. Memikirkan hal yang entah. Jika ada orang yang masuk, pastilah aku mendengarnya.
Lalu, sekali lagi aku berpikir, suara siapa itu?!


Suara yang menyeramkan. Serak-serak berat seakan menanggung beban yang entah kapan masih bisa ia tahan.
Suara yang, ah, aku tidak suka mendengarnya.


Berusaha untuk tidak ambil pusing, aku mencoba memejamkan mata. Menjemput mimpi. Ehm, tidak. Menjemput pagi. Akhir-akhir ini aku jarang bermimpi.

***

Pagiku terbangun dengan biasa-biasa saja. Tidak bangun dengan bahagia seperti di iklan-iklan. Tidak bangun terlalu pagi ataupun terlalu siang.
Tidak juga bangun dengan sebuah kecupan sayang.
Yah, biasa-biasa saja.



Tapi suara malam tadi, pagi ini aku mengingatnya lagi. Begitu nyata terngiang-ngiang di kepala. Berkali-kali aku menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengusir suara.
Ugh, sial. Ia tetap ada, masih kukuh pada posisinya.

"CEPAT MASUKKAN SESEORANG KESINI! BERIKAN AKU TEMAN! AKU SUDAH BOSAN DENGAN KESEPIAN!"

Suara itu terdengar lagi! 
Nada suaranya berbeda, kali ini penuh dengan amarah.
Aku menutup telinga dengan kedua telapak tangan.  Tapi sia-sia.
Sepertinya suara itu berasal dari dalam. Menutup telinga tentu saja tidak berguna.


"Siapaaa?", teriakku mencoba mencaritahu.

Tak ada jawaban. Suara yang sedari tadi terngiang-ngiang itu juga menghilang.
Sunyi. Sampai-sampai aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri.
Kemana perginya suara tadi?


Aneh. Beberapa saat yang lalu aku ingin suara misterius itu pergi. Tapi sekarang aku malah kebingungan karena suara itu tidak muncul lagi.
Aku merasa bodoh.


Ah sudahlah, baiknya aku segera mandi. Berangkat kerja. Atau jika tidak, maka atasanku akan marah-marah seperti biasa. Uhm, bukan. Lebih marah-marah lagi dari biasanya.
Beranjak dari tempat tidur, aku meraih handuk, berjalan ke arah pintu, lalu
 
"BERIKAN AKU TEMAAAAAN!!"

Belum sempat aku meraih gagang pintu, suara itu muncul lagi! Suara dengan nada yang marah. Lebih marah dari yang tadi. Hampir jatuh aku terkejut aku karena mendengarnya.
Aku terduduk. Membelakangi tubuh lemari. Untuk kemudian kusandarkan punggungku padanya.
Mencoba berpikir jernih, aku mengingat-ingat.
Apa yang sudah aku hilangkan?
Kenapa suara itu sebegitu mengeluhnya kepadaku?
Lalu, siapa sebenarnya pemilik suara itu?!


"Letakkan tanganmu, di dadamu".

Suara itu lagi. Aku semacam mulai terbiasa mendengarnya.
Tapi suara yang kudengar barusan rasanya sedikit berbeda. Suara itu lebih tenang. Tak ada kemarahan pada setiap gelombang nada yang ia keluarkan.
Suara yang kudengar kali ini lebih lembut, cenderung berbisik.


Mengikuti apa yang suara itu inginkan, aku meletakkan telapak tangan di dada.
Terdiam sejenak. Semacam menunggu instruksi selanjutnya.

Satu menit, dua menit, ......, lima belas menit, tetap tak ada petunjuk lagi yang suara itu berikan.
Sepertinya ada kesalahan.
Bukan menunggu, aku yang harus menjemputnya, mencaritahu.


Masih dengan telapak tangan di dada, aku memejamkan mata.
Melepaskan pikiran-pikiran. Membiarkannya melayang, terbawa terbang oleh imajinasi yang datang perlahan.

"Yah, ternyata benar juga. Sudah cukup lama ruang pada tempat ini tidak kuisi. Lebih tepatnya tidak mengizinkan siapapun masuk kesini", gumamku masih dengan telapak tangan di dada sambil memejamkan mata.

"Ya.. Cepat lepaskan, rambu 'dilarang masuk' yang ada pada sisi luar pintu ini. Sekali lagi aku katakan, aku butuh teman"

Suara itu lagi. Aku benar-benar sudah terbiasa. Nada suaranya kali ini, tidak berteriak, tidak pula berbisik.
Semacam meratap. Aku mengerti.

Menuruti kemauan si pemilik suara, kulepaskan rambu 'dilarang masuk' yang menempel pada pintu yang ia sebutkan tadi.
Lalu kuganti dengan kertas bertuliskan "Siapa saja boleh masuk. Tapi hanya untuk satu orang".

Hey! Kapan aku membuat tulisan seperti itu? Seingatku, sejak tadi aku hanya memejamkan mata, pun dengan telapak tangan di dada.
Ah, siapa peduli. Ini kan dunia imajinasi. Dunia imajinasiku sendiri.


"Terima kasih, silahkan kamu beraktifitas kembali. Sambil mencari"

Aku merasa tenang. Lebih tenang daria biasanya. Sambil menghela nafas panjang, kubuka mataku yang sedari tadi terpejam.

"ASTAGA! GUE TELAT BERANGKAT KERJA!!", teriakku setelah melihat jam dinding yang tertawa.

1 komentar: